PT. GUNANUSA ERAMANDIRI Tbk
sales@jfnuts.com       sales.export@jfnuts.com +62 21 29569751

Perkuat Daya Saing, Gunanusa Eramandiri Jalankan Farming 4.0

JAKARTA, Investor.id – Sejalan dengan penguatan sinyal pemulihan ekonomi, PT Gunanusa Eramandiri kian fokus pada pengembangan sistem dan teknologi untuk menjadi perusahaan manufaktur kacang berkualitas terbaik dan harga bersaing di Asean.

Strategi pengembangan Farming 4.0 juga dihela lebih konsisten, tidak saja untuk meningkatkan daya saing di pasar domestik dan ekspor, tapi lebih luas lagi juga untuk berkontribusi dalam upaya substitusi impor kacang. Apalagi, saat ini Indonesia menjadi importir kedua terbesar di dunia.

“Dalam cakupan global, dari segi konsumsi kacang, Indonesia masuk dalam top 5, tapi tidak masuk dalam top 10 produsen kacang. Ini menjadi PR bagi kita,” jelas Ivan Cokro, direktur utama PT Gunanusa Eramandiri dalam virtual forum Beritasatu Economic Outlook, di Jakarta, Rabu (24/11).

 

Tiongkok saat ini adalah produsen kacang tanah terbesar di dunia (38%), disusul India (15%), Nigeria (8%), dan Amerika Serikat (6%), dan Senegal dan Argentina masing-masing 3%.

 

Sedangkan importir kacang terbesar adalah Belanda. Indonesia di peringkat kedua, dan Jerman di tempat ketiga. “Kita mengimpor kisaran 70% kacang dari total konsumsi. Sedangkan Netherland, meski importir terbesar, tapi untuk diekspor lagi. Netherland sebagai pintu masuk ke Eropa,” ujarnya.

 

Ivan Cokro memperjelas, strategi pengembangan farming 4.0, yang sebenarnya sudah berjalan setahun lebih, dihela untuk beberapa tujuan. Pertama, meningkatkan kesejahteraan petani. “Bicara soal pertanian, kita juga harus berkontribusi terhadap kesejahteraan petani,” jelasnya.

 

Kedua, implementasi pertanian kacang 4.0 untuk meningkatkan produksi kacang dalam negeri. Langkah ini untuk mengurangi impor, dengan lebih mengandalkan produksi dalam negeri. Dalam konteks perdagangan internasional, hal ini untuk membuat produk kacang dalam negeri juga bisa lebih bersaing di pasar ekspor, khususnya di Asean dalam kurun empat tahun ke depan.

 

Targetnya, jelas Ivan, adalah substitusi bahan baku kacang tanah impor dengan produksi dalam negeri. Dengan demikian juga meningkatkan daya saing hasil olahan kacang di pasar internasional dan meningkatkan pasar ekspor. “Kami membangun bisnis yang menguntungkan bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat. Ini dilandasi karena cinta Tanah Air,” jelas Ivan Cokro.

 

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

 

Sumber : Investor Daily

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WhatsApp Kami